Jumat, 01 Maret 2013

Penyakit ikan LeLe

Hama dan Penyakit Pada Budidaya Ikan Lele
Hama dan Penyakit Pada Budidaya Ikan Lele

Hama pada lele adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan lele. Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang lele antara lain berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air, ikan gabus dan belut.Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan lele secara intensif tidak banyak diserang hama.

Penyakit parasit adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil. Jenis hama/penyakit :

1. Penyakit karena bakteri Aeromonas hydrophilla dan Pseudomonas hydrophylla Bentuk bakteri ini seperti batang dengan cambuk yang terletak di ujung batang, dan cambuk ini digunakan untuk bergerak. Ukurannya 0,7-0,8 x 1-1,5 mikron. Gejala: lele yang terkena bakteri ini: warna tubuh menjadi gelap, kulit kesat dan timbul pendarahan. Lele bernafas megap-megap di permukaan air. Pencegahan: lingkungan harus tetap bersih, termasuk kualitas air harus baik. Pengobatan: melalui makanan antara lain pakan dicampur viterna yang diberikan 1 kapsul amne atau cara konvensional dengan Terramycine dengan dosis 50 mg/kg ikan/hari, diberikan selama 7-10 hari berturut-turut atau dengan Sulphonamid sebanyak 100 mg/kg ikan/hari selama 3-4 hari.

2. Penyakit tuberculosis yang disebabkan bakteri Mycobacterium fortoitum
Gejalanya : tubuh ikan berwarna gelap, perut bengkak ( karena tubercle/bintil-bintil pada hati, ginjal, dan limpa). Posisi berdiri di permukaan air, berputar-putar atau miring-miring, bintik putih di sekitar mulut dan sirip. Pengendalian: memperbaiki kualitas air dan lingkungan kolam. Pengobatan: dengan viterna 1 botol dikasih 1 kapsul amne dan dijadikan suplemen pakan, 1 tutup untuk 2 sd 5 kg pakan. atau cara konvensional dengan Terramycin dicampur dengan makanan 5-7,5 gram/100 kg ikan/hari selama 5-15 hari.

3. Penyakit karena jamur/candawan Saprolegnia.

Penyebab: jamur ini tumbuh menjadi saprofit pada jaringan tubuh yang mati atau ikan yang kondisinya lemah. Gejala: ikan ditumbuhi sekumpulan benang halus seperti kapas, pada daerah luka atau ikan yang sudah lemah, menyerang daerah kepala tutup insang, sirip, dan tubuh lainnya. Penyerangan pada telur, maka telur tersebut diliputi benang seperti kapas. Pengendalian: benih gelondongan dan ikan dewasa direndam pada Malachyte Green Oxalate 2,5-3 ppm selama 30 menit dan telur direndam Malachyte Green Oxalate 0,1-0,2 ppm selama 1 jam atau 5-10 ppm selama 15 menit. pakan dikasih viterna yang diberikan 1 kapsul amne dalam 1 botolnya…dijadikan suplemen pakan harian.

4. Penyakit bintik putih dan gatal (Trichodiniasis) Penyebab: parasit dari golongan Ciliata, bentuknya bulat, kadang-kadang amuboid, mempunyai inti berbentuk tapal kuda, disebut Ichthyophthirius multifilis.
Gejala:
(1) ikan yang diserang sangat lemah dan selalu timbul di permukaan air
(2) terdapat bintik-bintik berwarna putih pada kulit, sirip dan insang
(3) ikan sering menggosok-gosokkan tubuh pada dasar atau dinding kolam.
Pengendalian : air harus dijaga kualitas dan kuantitasnya.
Pengobatan : dengan cara perendaman ikan yang terkena infeksi pada campuran larutan formalin 25 cc/m3 dengan larutan Malachyte Green Oxalate 0,1 gram/m3 selama 12-24 jam, kemudian ikan diberi air yang segar. Pengobatan diulang setelah 3 hari. pakan dengan campuran viterna yang dikasih amne 1 kapsul per botol vtn. dikasihkan dengan dosis anjuran.

5. Penyakit cacing Trematoda Penyebab: cacing kecil Gyrodactylus dan Dactylogyrus.

Cacing Dactylogyrus menyerang insang, sedangkan cacing Gyrodactylus menyerang kulit dan sirip.
Gejala: insang yang dirusak menjadi luka-luka, kemudian timbul pendarahan yang akibatnya pernafasan terganggu.
Pengendalian :
(1) direndam formalin 250 cc/m3 air selama 15 menit
(2) Methyline Blue 3 ppm selama 24 jam
(3) menyelupkan tubuh ikan ke dalam larutan Kalium Permanganat (KMnO4) 0,01% selama ±30 menit
(4) memakai larutan NaCl 2% selama ± 30 menit
(5) dapat juga memakai larutan NH4OH 0,5% selama ±10 menit. pakan dengan viterna sama dengan perlakuan di atas.

6. Parasit Hirudinae Penyebab: lintah Hirudinae, cacing berwarna merah kecoklatan.
Gejala : pertumbuhannya lambat, karena darah terhisap oleh parasit, sehingga menyebabkan anemia/kurang darah. Pengendalian: selalu diamati pada saat mengurangi padat tebar dan dengan larutan Diterex 0,5 ppm. Apabila lele menunjukkan tanda-tanda sakit, harus dikontrol faktor penyebabnya, kemudian kondisi tersebut harus segera diubah, misalnya :
1. Bila suhu terlalu tinggi, kolam diberi peneduh sementara dan air diganti dengan yang suhunya lebih dingin.
2. Bila pH terlalu rendah, diberi larutan kapur 10 gram/100 l air.
3. Bila kandungan gas-gas beracun (H2S, CO2), maka air harus segera diganti.
4. Bila makanan kurang, harus ditambah dosis makanannya.
5. pakan dicampur viterna yg sudah diberikan amne 1 kapsul per botolnya.
 

PENANGGULANGAN PENYAKIT LELE

Bermacam penyakit lele sering kali membuat pusing para pengusaha budidaya lele, baik yang berkecimpung di segmen pembenihan maupun pada segmen pembesaran, bahkan tidak jarang penyakit yang menyerang lele berujung pada kematian sehingga mengakibatkan kerugian besar bagi para pengusaha ternak lele, penyakit lele bisa diakibatkan dari bermacam faktor, baik karena faktor alam maupun dari kesalahan tata cara pembudidayaan.
Banyak cara yang bisa dilakukan dalam hal penggulangan penyakit lele, diantaranya dengan menggunakan bahan-bahan yang sudah tersedia di alam atau disekitar lingkungan kita, selain lebih murah dan mudah didapat, pengobatan penyakit lele dengan bahan-bahan alami relatif lebih aman, baik untuk lele maupun untuk lingkungan sekitar.
Contoh penanggulangan penyakit lele dengan bahan alami yang sudah dilakukan oleh beberapa pembudidaya ikan lele :
1.    Radang usus, penyakit lele ini biasanya menunjukkan gejala lele akan terlihat berdiri tegak dan bagian kumisnya menyembul di permukaan air, beberapa pembudidaya menyebutnya seperti tiang listrik, jika ikan lele rekan-rekan pembudidaya mengalami penyakit lele seperti ini, penanggulangannya bisa dengan cara menggunakan buah mengkudu yang sudah masak/mateng, caranya mudah, ambil buah mengkudu yang sudah masak lalu masukkan pada kolam lele yang sakit, untuk ukurannya disesuaikan saja dengan besaran kolam, misalnya untuk kolam ukuran 2×4 cukup dengan 1 atau 2 buah mengkudu.
2.    Radang Insang, penyakit lele seperti ini biasanya menunjukkan ciri insang lele yang memerah. Penanggulangan penyakit lele seperti ini bisa dengan cara menggunakkan daun sirih dan daun pepaya. Caranya, ambil 10 lembar daun sirih dan 10 lembar daun pepaya segar, lalu rebus dengan 1 liter air (1gayung) biarkan mendidih sampai  air sat/susut menjadi tinggal 1 gelas. Setelah itu larutkan hasil rebusan air yang 1 gelas tadi dengan 10 gelas air bersih, hasil campuran inilah yang bisa digunakan, tebarkan larutan ini secukupnya pada permukaan air kolam yang terkena penyakit, dosis harus disesuaikan dengan luas kolam.
3.    Asam lambung, lele yang terkena penyakit ini biasanya akan terlihat kembung karena berisi gas/angin dan cairan, untuk penyakit ini penanggulangannya bisa dengan cara seperti penanggulangan pada penyakit radang insang.
4.      Penyakit  jamur/radang kulit, biasanya pada kulit lele akan terlihat bercak-bercak putih, atau jika yang sudah parah kulitnya seperti terkelupas, untuk penyakit lele  jenis ini, penanggulangannya bisa dengan ramuan seperti pada penanggulangan pada penyakit radang insang (no.2) hanya saja agar khasiat ramuan lebih efektif, sebaiknya ikan lele yang sakit direndam dalam baskom yang telah diisi dengan ramuan tersebut. jika jumlah ikan lele yang  sakit banyak, penanggulangan penyakit lele bisa dengan cara seperti di bawah ini :
  a. Kuras air kolam 50%
  b. Siapkan baskom/wadah yang bisa menampung jumlah ikan yang akan diobati, isi dengan ramuan  daun pepaya dan daun sirih (yang telah dicampur dengan air bersih 10:1)
  c. Masukan ikan lele  kedalam baskom/wadah, waktunya disesuaikan saja, jangan terlalu lama, jika ikan lele terlihat sudah megap-megap, berarti sudah cukup.
  d. Kembalikan ikan lele ke dalam kolam, tambahkan air kolam seperti volume awal, sebaiknya gunakan air yang berkualitas baik (Sudah dikompos atau air yang sudah melalui proses persiapan untuk air kolam).
  e. Untuk membantu proses penyembuhan, boleh menebar cairan ramuan tersebut ke dalam kolam (cara no.2), ditambah dengan memasukan buah mengkudu yang sudah masak/mateng (cara no.1) Ini hanyalah beberapa contoh cara penanggulangan penyakit lele dengan menggunakan bahan-bahan alami yang telah dilakukan oleh beberapa pembudidaya, 
 

Resep Pencegah Penyakit Lele Ditemukan UF-two

Mang Bina, tetangga saya berniat ingin membudidayakan ikan lele. Usaha berkebun dan bersawah yang dijalaninya selama ini kurang menguntungkan. Namun ketika melihat Sukri, kakaknya berkali-kali gagal, diapun segera mengurungkan niatnya. Menurutnya, kegagalan itu disebabkan oleh adanya serangan penyakit dan hingga kini belum ada obatnya.
Sukri bukanlah satu-satunya pembudidaya lele yang gagal. Masih banyak lagi yang lainnya, baik di lingkungan saya maupun yang saya dengar orang-orang serta yang saya baca dari facebook (FB). Saya termasuk anggota dari Catfish Care Indonesia (CCI). Kegagalan itu menjadikan banyak pembudidaya lele yang merugi dan menghentikan usahanya.
Melihat kegagalan itu, hati saya terketuk. Kebetulan waktu di Bogor saya pernah melakukan ujicoba penanggulangan penyakit lele. Namun ujicoba itu belum diteruskan karena alasan teknis. Pada Bulan Nopember 2010, saya membeli sebidang sawah seluas 600 m2. Dalam lahan tersebut, saya buat 18 buah kolam panjang 4 m, lebar 3 m dan tinggi 50 cm.
Sesuai dengan niat, maka kolam-kolam itu saya jadikan sebagai tempat percobaan. Dalam percobaan itu, saya lebih menitikberatkan pada pencegahan, bukan pengobatan. Karena menurut saya, mencegah lebih baik daripada mengobati, mengobati lebih sulit daripada mencegah. Selain itu mengobati memerlukan waktu yang lebih lama dan butuh biaya besar.
Percobaan pertama dilakukan dalam sebuah kolam panjang 4 m, lebar 3 m dan tinggi 0,5 m. Sebelum penebaran, kolam disiapkan. Persiapan kolam dilakukan sesuai dengan Standar Oprasional Prosedure (SOP) yang telah dibuat. Kemudian kolam tersebut saya tebar 15.000 ekor benih ukuran rata-rata 1,5 cm. SOP juga diterapkan selama masa pemeliharan.
Selama masa percobaan dilakukan pengamatan, meliputi ketahanan tubuh, pertumbuhan, tanda-tanda serangan penyakit, keadaan air dan lain-lain. Bila ada gejala serangan penyakit segera ditangani sesuai dengan SOP. Hasilnya cukup bagus. Dalam 3 minggu, benih mencapai ukuran 3 – 7 cm (beragam) sebanyak 12.650 ekor atau SR 84,30 persen.
Percobaan kedua dilakukan dalam 4 kolam. Persiapan kolam sesuai dengan SOP. Dalam setiap kolam, ditebar 62.500 ekor larva. Pemeliharaan juga sesuai dengan SOP. Pengamatan dan penanganan sama dengan percobaan pertama. Namun kepadatan itu ternyata terlalu tinggi, hingga harus dilakukan tindakan lain, yaitu penyebaran benih ke kolam-kolam lain.
Penyebaran benih dilakukan pada hari ke delapan untuk kolam pertama, kedua dan ketiga. Hingga kini sudah disebar ke tiga kolam, dengan jumlah masing kurang lebih 30.000 ekor, jumlah total 90.000 ekor. Benih dari kolam ke empat belum disebar, karena keterbatasan kolam. Di tiga kolam masih tersisa benih ukuran 2 – 3 cm tidak kurang dari 100.000 ekor.
Percobaan ketiga dilakukan dalam dua kolam. Setiap kolam ditebar 100.000 ekor larva. Persiapan dan pemeliharaan tetap sesuai dengan SOP. Hingga hari ke tujuh benih baru disebar ke satu kolam sebanyak 50.000 ekor, karena keterbatasan kolam. Namun benih yang tersisa masih banyak, diperkirakan lebih dari 120.000 ekor dan dalam kondisi sehat.
Semua yang digambarkan dalam artikel ini sungguh tidak bohong. Bila tidak percaya, silahkan datang ke UF-two. Terus terang saja, ini baru tahap percobaan, masih perlu penelitian lebih lanjut. Namun UF-two masih belum membutuhkan pihak lain. UF-two ingin mandiri, seperti tujuan awalnya. Resep ini menjadi materi pada tanggal 5-6 Maret 2011
Semoga Allah memberkati kita semua. Amin
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar